Bagi yang ingin berkonsultasi dengan penulis silahkan klik di sini

KEMBALI KE PITRAH MANUSIA

Minggu, 06 Februari 2011

 Oleh syarqawi Dhofir

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

ألله أكبر 9× كبيرا والحمد لله كثيرا و سبحان الله  بكرة و أصيلا لا إله إلا الله  وحده . صدق وعده و نصر عبده . و أعز جنده و هزم الأحزاب وحده.  لا إله إلا الله  ولا نعبد إلا إياه . مخلصين له الدين ولو كره المنافقون. لا إله إلا الله  الله أكبر و لله الحمد. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له .  و أشهد أن محمدا  عبده و رسوله لا نبي بعده.

أللهم اجعل صلواتك و بركاتك على سيد المرسلين وإمام المتقين و خاتم النبيين سيدنا محمد عبدك ورسولك إمام الخير وقائد الخير و رسول الرحمة اللهم ابعثه المقام المحمود الذى يغبطه فيه الأولون و الآخرون. أما بعد

فيا عباد الله  أوصيكم و إياى نفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون. اعلموا أن التقوى صفة للاولين والآخرين. و شعار المؤمنين و المحسنين. قال الله عز وجل : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم " فأقم وجهك للدين حنيفا فطرة الله التى فطر الناس عليها – لاتبديل لخلق الله ذلك الدين القيم – ولكن أكثر الناس لا يعلمون –



Allahu Akbar  9 x


Sejak habis Maghrib, tanggal 1 Syawal,  kami  menyebut asma-Mu   “Allahu Akbar”,  dengan keyakinan  hanya Engkau Yang  Maha Besar.  Selain Engkau  kecil. Jabatan kecil. Urusan rumah tangga kecil. Urusan dunia kecil. Urusan pekerjaan kecil. Dan apapun di dunia ini adalah kecil. Namun kami datang ke tempat ini untuk mengakui, bahwa seringkali urusan-urusan duniawi itu kami urusi seakan-akan lebih penting dari urusan Engkau. Kami bisa bangun jam tiga malam untuk sebuah urusan bisnis. Tapi tak sanggup bangun untuk urusan tahajjud. Kami bisa hadir tepat waktu untuk urusan duniawi yang menjanjikan keuntungan material. Tapi kami tak sanggup datang tatkala Engkau melalui muadzdzin berseru “Mari kita shalat jama’ah, mari kita  menuju keberuntungan”. Ya Allah sehari-hari kami kecilkan  Engkau dan kami besarkan selain Engkau. Karena itu ampunilah kami  yang lalai dan terpedaya ini. Berikanlah pada kami kekuatan untuk mengamalkan dengan sejujurnya keyakinan kami bahwa hanya Engkau Yang Maha Besar dan selain Engkau adalah kecil.

Allahu Akbar  9 x  walillahil hamd

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar,  selain Engkau adalah kecil. Hati kami bergetar dengan penuh rasa takut tatkala atasan kami di kantor marah. Hati kami  bingung tatkala kami mendengar  ancaman pemecatan hubungan kerja dari  bos kami.  Hati kami gundah dan gelisah tatkala gaji kami habis di pertengahan bulan. Kami menangis tatkala ditimpa kerugian material yang cukup besar. Namun hati kami tak bergetar sedikitpun ketika mendengar ancaman neraka-Mu. Hati kami tak gelisah ketika mendengar ancaman siksa-Mu yang amat pedih. Ya Allah masihkah di hati kami ini ada sedikit rasa takut kepada-Mu ?. Ya Allah masihkah di hati kami ada ketaqwaan kepada  Engkau ? Mengapa kebesaran-Mu yang Maha Besar itu tak lagi menakutkan kami ? Mengapa ancaman-Mu yang sangat luar biasa itu tak lagi menggetarkan hati kami ?  Ya Allah, Ampunilah kami ! Karuniakan pada kami, ketakutan dan ketaqwaan berhadapan dengan kebesaran-Mu, sebagaimana Engkau mengaruniakannya kepada para nabi-Mu, para sahabat, para wali Mu dan para ulama-Mu yang ikhlash.   Karena hanya Engkau yang Maha Pengampun yang bisa mengampuni semua dosa-dosa kami.

Allahu Akbar  9 x  Walillahil hamd


Sehari-hari kami sanggup membeli maksiat dengan puluhan ribu. Bahkan jutaan rupiah sekalipun. Sehari-hari kami bisa membayar tiket seharga seratus ribu atau lebih hanya untuk sebuah hiburan yang Engkau membencinya. Demi kenyamanan kami, kami biasa membeli barang semahal apapun asal kami mampu. Tapi urusan agama-Mu ya…. Allah, Rp. 5000 yang kami berikan terasa begitu besar. Bahkan tak jarang kami menolaknya. Setiap kali datang amal untuk kepentingan agama-Mu, selalu kami cari uang yang paling kecil. Padahal untuk setiap amal yang diserahkan kepada-Mu Engkau janjikan  ganti 700 kali lipat plus  kenimatan abadi di alam syurga. Sehari-hari kami lebih percaya menabung ke Bank dari pada menabung kepada Engkau.  Ya Allah ampunilah kami, karuniakan kepada kami  kedermawanan sebagai mana Engkau karuniakan kepada para nabi-Mu dan para sahabat-sahabat Rasul Mu.. Berilah pada kami kekuatan untuk mengamalkan keyakinan kami bahwa hanya Engkau yang Maha Besar dan selain Engkau adalah kecil.  

Allahu Akbar  9 x  Walillahil hamd


Sudah merupakan pengetahuan umum yang baku, bahwa manusia adalah puncak kreasi Allah yang paling istimewa. Kemanusiaan menjadi lambang kreasi Allah paling spektakuler, di dalamnya ada martabat yang tertinggi dan terluhur. Namun demikian martabat itu bisa turun serendah-rendahnya, menjadi memiliki martabat yang paling rendah dari semua kreasi Allah, bila manusia kehilangan dua hal:

1.      Iman kepada Allah
2.      Perbuatan bajik.

لقد خلقنا الإنسان فى أحسن تقويم ثم رددناه أسفل سافلين إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات فلهم أجر غير ممنون (التين: 4-6)
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik, kemudian Kami kembalikan ke tempat yang terendah, kecuali mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Maka bagi mereka pahala yang tiada terhingga (At-Tin: 4-6)

Jika kita perhatikan kembali sejarah kejadian manusia dalam Al-Quran, kita mengetahui bahwa manusia menurut  fitrahnya, menurut asal kejadiannya adalah  makhluk mulia. Sekurang-kurangnya ada empat sebab mengapa manusia tidak lagi menjadi makhluk mulia sesuai dengan fitrah asal kejadianya :

1.      Karena salah didik dan pengaruh-pengaruh pikiran sesat
2.      Karena kelemahan diri berhadapan dengan pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari.
3.      Karena kelemahan diri berhadapan dengan pengaruh lingkungan.
4.      Karena kelemahan diri berhadapan dengan dorongan nafsu dan syetan yang menguasai jiwa manusia

Empat faktor pokok itu akan lenyap, hanya bila manusia punya semangat “ketuhanan yang benar” dan semangat “berbuat bajik kepada sesama”

Allahu Akbar  9 x  Walillahil hamd

            Dalam kenyataan sejarah, perjuangan memperoleh dan mempertahankan harkat dan martabat kemanusiaan merupakan ciri dominan deretan pengalaman hidup manusia sebagai makhluk sosial. Dalam sejarah perjuangan itu, manusia lebih banyak mengalami kehilangan fitrah kemanusiaannya dan kehilangan  kebahagiaan hidupnya  daripada menemukannya kembali. Atas dasar belas kasih dan rahmat Allah maka Allah merasa perlu mengutus para rasul-rasul dan nabinya berkali-kali, yaitu untuk memimpin umat manusia melawan kejatuhannya sendiri dan mengemansipasi harkat dan martabatnya dari kejatuhan itu.

            “Ya Allah, setelah nabimu yang terakhir Muhammad SAW,  ini juga, perjalanan hidup kami  lebih banyak mengalami kejatuhan dan kehilangan fitrah kemanusiaan kami,  daripada menemukan fitrah kemanusiaan kami yang suci, kami lebih banyak tenggelam dalam kehidupan kebinatangan daripada sibuk mengamalkan kebajikan. Kami lebih mempercayai janji-janji manusia dibanding janji limpahan pahala dan karuniaMu. Kami lebih tertarik mengikuti rayuan keinginan kami dari pada mengikuti keinginanmu. Di Masjid ini, di hari Raya Kembalinya Fitrah ini, kami berharap dan memohon kepada Engkau, kembalikanlah kami ke pada fitrah kemanusiaan kami yang semula, fitrah manusia yang hanya percaya kepada Engkau satu-satunya Tuhan tempat kami memohon dan kembali, dan fitrah kemanusiaan yang selalu punya semangat untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya kepada sebanyak-banyaknya orang ”. 

Allahu Akbar  9 x  Walillahil hamd

            Kata “iman” kepada satu Tuhan Allah yang merupakan ciri utama kembalinya fitrah kemanusiaan, sering diartikan sebagai percaya begitu saja.. Pemberian arti demikian itu tidak salah, tetapi tidak mencakup keseluruhan maknanya yang sesungguhnya.Untuk memperoleh gambaran tentang maknanya yang lengkap, barangkali baik kita ingat bahwa perkataan “iman” berasal dari akar kata yang sama dengan perkataan “aman” artinya kesejahteraan dan kesentausaan. Juga sama dengan kata “amanat” artinya keadaan yang bisa dipercaya atau diandalkan. Lawannya  khianat..

            Karena itu “iman” yang benar adalah iman yang dapat  membawa rasa “aman” dan membuat orang mempunyai sifat “amanat”, lebih dari sekedar percaya akan adanya Tuhan. Karena itu  pengertian iman dalam arti “percaya” yang tidak membawa konsekuensi yang nyata yang bisa melahirkan keamanan, kesejahteraan, kejujuran dan tanggungjawab,  menjadi absurd dan tak bermakna. Dan karena itu pulalah  Allah selalu menyertakan kata iman dalam Al-Quran dengan “wa ‘amilus shalihat “ berbuat kebajikan. Yang demikian untuk sedikit lebih memperjelas makna iman itu.

Dalam perkataan “iman kepada Tuhan” atau “menaruh kepercayaan kepada-Nya, terkandung pengertian tentang sikap pandangan hidup yang penuh kepasrahan menyandarkan diri (tawakkal) kepada Tuhan dan sifat untuk memulangkan semua perkara kepadaNya, karena Allah adalah tempat  kembali.

وأنيبوا إلى ربكم وأسلموا له من قبل أن يأتيكم العذاب ثم لا تنصرون (الزمر 54)

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadanya sebelum datang azab kepadamu. Kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi.

Mengapa demikian ? Sebab memang salah satu wujud rasa iman ialah sikap hidup yang memandang Tuhan sebagai tempat menyandarkan diri dan menggantungkan harapan. Oleh karena itu konsistensi iman adalah “husnudzan” (baik sangka yaitu sikap optimis) kepada Tuhan, serta kemantapan kepada-Nya sebagai yang Maha Kasih dan Maha Sayang. Justru Rahmah disamping pengetahuan adalah sifat Tuhan yang paling komprehensif dan serba meliputi, sebagaimana yang telah Allah sebutkan dalam dalam  surat Yusuf:87 dan  Al-An’am:62.

             “Ya Allah hingga hari ini iman kami kepada Mu belum bisa memberikan rasa sejahtera dan aman kepada orang lain. Ya Allah hingga hari ini  iman kami belum sepenuhnya memberi kemamtapan untuk untuk berlindung satu-satunya kepada Engkau, kami lebih sering berlindung pada uang, berlindung pada jabatan, berlindung pada kiat-kiat nafsu kami. Di hari Raya Idul Fitri, hari kembalinya fitrah martabat kemanusiaan, kami memohon kepada Engkau, karuniakan kepada kami iman yang menebarkan kebajikan kepada orang lain, karuniakan kepada kami imam yang dapat menaburkan keamanan kepada orang lain, iman yang dapat menebarkan rasa  belas kasih, rasa hormat dan toleransi. Ya Allah karuniakan kepada kami iman yang memantapkan pikiran dan perasaan  kami untuk berserah diri, berlindung dan memulangkan semua urusan kami hanya kepada Engkau”.

Allahu Akbar  9 x  Walillahil hamd 

            Telah diketahui bahwa titik berat dakwah Al-Quran ialah bagaimana supaya manusia beriman kepada Allah secara benar. Selanjutnya, jika kita perhatikan lebih teliti argumen-argumen Al-Quran dalam mengajak kepada iman itu sebagian besar ditujukan kepada orang-orang musyrik atau kaum politheis.Dengan perkataan lain,problemanya ialah bagaimana mengubah manusia dari paham ketuhanan yang palsu yang mempercaya banyak oknum (politeisme) kepada paham ketuhanan yang tunggal (tauhid, monoteisme). Dalam Al-Quran memang tersebutkan adanya suatu kelompok yang biasanya ditafsirkan sebagai kelompok penganut atheisme, namun dituturkan hanya sepintas lalu,yang mengisyaratkan bahwa kelompok itu kecil sekali dalam masyarakat, sebagaimana tertera dalam surat Al-Jatsiyah:24. Sebaliknya kelompok yang paling banyak menentang nabi ialah kaum musyrik (kaum politeisme)

            Meskipun kasusnya terjadi di Makkah dan sekitarnya pada sekitar lima belas abad yang lalu, signifikansinya bisa digeneralisasikan meliputi seluruh umat manusia sejagat sampai sekarang, yaitu bahwa problema pokok manusia ialah kemusyrikan (politeisme). .Sampai saat-saat terakhir di zaman modern inipun pandangan dan sikap hidup politeistik tetap merupakan sumber masalah dan kesulitan manusia.
           
Jika kita perhatikan berbagai praktek politeistik, baik yang kuno maupun yang modern, kita akan dapat mengerti mengapa politeisme atau syirik itu dalam kitab suci disebut dosa yang amat besar  dan kejahatan yang sangat kejam yang tak dapat diampuni.

إن الشرك لظلم عظيم (لقمان : 13)
إن الله لايغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك
ومن يشرك بالله فقد افتري إثما عظيما (النساء : 48)


Mengapa kemusyrikan (politeisme) dianggap demikian? Pertama,   karena setiap praktek syirik menghasilkan efek pemenjaraan harkat manusia dan pemerosotan martabatnya. Kedua, karena kemusyrikan itu melawan fitrah manusia sendiri sebagai makhluk yang paling tinggi dan dimuliakan oleh Allah. Ketiga, karena hakikat syirik sama dengan mitos, sama dengan cerita bohong yang mengangkat sesuatu selain Allah  secara tidak benar. Sehingga sesuatu selain Allah itu memiliki nilai lebih tinggi daripada nilai manusia sendiri.

            Karena itu demi harkat dan martabatnya sendiri, manusia harus menghambakan diri hanya kepada Allah Yang Maha Esa, dan tidak kepada selain-Nya. Dalam gambaran grafisnya:

1.      Manusia harus melihat ke atas hanya kepada Tuhan Yang Maha Tinggi,
2.      Manusia harus melihat ke bawah kepada alam
3.      Manusia harus melihat secara mendatar kepada sesama manusia.
Hanya dengan itu manusia menemukan dirinya yang fitri dan alami sebagai makhluk yang memiliki  martabat dan harkat yang tinggi. Dengan ungkapan lain, manusia menemukan kepribadiannya yang utuh dan integral hanya jika memusatkan orientasi transendental hidupnya kepada Allah. Sebaliknya bagi manusia  yang menempatkan dirinya  secara harkat dan martabat di bawah sesamanya atau, apalagi, di bawah objek dan gejala alam, akan membuatnya berkepribadian tak utuh. Karena ia akan kehilangan kebebasannya, dan hilangnya kebebasan itu mengakibatkan pula hilangnya kesempatan dan kemungkinan mengembangkan diri ke tingkat yang setinggi-tingginya.
           
“Ya Allah dalam kehidupan keseharian kami, kami seringkali mentaati atasan kami di kantor lebih dari taatnya kami kepada Engkau. Untuk urusan uang  kami bisa mengusahakan secara optimal segenap daya dan tenaga kami, tapi untuk urusan Engkau kami hanya mengusahakan yang minimal yang bisa kami lakukan. Untuk urusan kenaikan pangkat dan jabatan dan bisnis, kami optimalkan usaha kami, kami kerahkan segenap dana dan uapaya, tapi untuk kepentingan Engkau, lebih sering kami abaikan, bahkan kalaupun kami lakukan, kami hanya melakukan sekedarnya. Ya Allah, Kami memang tidak mengakui uang, jabatan, dagang dan urusan keduniaan itu sebagai Tuhan, tapi kami perlukan lebih dari yang kami lakukan kepada Engkau sebagai Tuhan kami. Ya Allah ampuni kemusyrikan kami itu, sungguh kami telah menjahati diri kami sendiri, berilah pada kami kekuatan untuk senantiasa mengesakan Engkau dalam setiap perbuatan kami”

Allahu Akbar  9 x  Walillahil hamd 

Menjadikan Tuhan sebagai tujuan hidup, dalam gambaran grafisnya lagi seperti diberikan ajaran agama berarti menempuh hidup mengikuti jalan lurus yang membentangkan antara dirinya sebagai das sein dan Allah  sebagai das solen. Dalam realita kesehariannya, manusia harus selalu berjuang untuk hidup sejalan dengan bisikan suci hati nurani.
           
Jadi jalan lurus itu lahir dari dalam  hati nurani, pusat dorongan jiwa manusia untuk bertemu dengan Tuhan. Maka kemurnian hidup yang dihasilkan iman kepada Tuhan itu, hanya bisa didapatkan dengan cara menempuh jalan lurus tersebut, dalam bentuk sikap jujur dan sejati kepada hati nurani (true to one’s conscience), yaitu hidup secara ikhlas (murni). Dan jalan lurus tidak lain adalah agama. Itulah sebabnya, mengapa Allah senantiasa mngaitkan perintah ikhlas dengan agama.  Keikhlasan itulah yang membawa kepada keutuhan hidup manusia. Inilah rahasia firman Allah:

فأقم وجهك للدين حنيفا فطرة الله التى فطر الناس عليها – لاتبديل لخلق الله ذلك الدين القيم – ولكن أكثر الناس لا يعلمون –

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Ar-Rum: 30).

وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين

Mereka tidaklah diperintahkan kecuali menghambakan diri kepada Allah dengan cara mengikhlaskan agamanya.

Persoalannya sekarang, bagaimana keikhlasan mengabdikan hidup kepada semata kepada Allah itu diwujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari?  Sekurang-kurangnya ada tiga cara yang bisa kita lakukan:

1.      Melakukan semua pekerjaan kita dengan cara yang terbaik yang bisa kita lakukan,  sesuai dengan tuntunan jalan agama, sehingga pekerjaan kita tidak saja responsible, tetapi juga akuntable.
2.      Menghindarkan diri dari semua bentuk manipulasi dan praktek ngakal-ngakali orang lain, karena yang demikian dapat mengotori kejernihan dan kesejatian nurani.
3.      Mengharapkan dari semua yang kita kerjakan semata “senangnya Allah pada kita”,  dan tidak mengharapkan selainnya, walaupun untuk itu harus menerima “makian orang lain”.

“Ya Allah, Tuhan kami satu-satunya, hampir setiap pekerjaan yang kami lakukan setiap hari semata diperuntukkan untuk mengharapkan senangnya anak kami,  cintanya istri kami, perhatian atasan kami, pujian teman-teman kami, dan sepi dari mengharap senangnya Engkau ya Allah kepada kami, sepi dari mengharapkan cinta dan kasih sayangMu. Bahkan yang lebih naif dan kejam, kami lebih wanti-wanti, lebih waspada dan lebih takut  marahnya anak, marahnya istri, marahnya teman dan marahnya atasan kami, dari marahnya Engkau yang Allah. Kami lebih takut tidak dapat uang dari pada tidak mendapat pahalaMu, kami lebih khawatir tidak disenangi oleh atasanya kami dari pada tidak diridloi Engkau. Ya Allah yang Maha Pengasih, masihkah ada keikhlasan dalam hidup kami. Karuniakan kepada kami kesejatian hati, kemurnian akal sehat, dan keikhlasan nurani dalam menjalankan tugas dan pekerjaan kami sehari-hari, sehingga tak ada lagi yang kami harap dari pekerjaan kami kecuali Ridlo-Mu ya Allah, kecuali belas kasih sayang-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang, amien ya Rabbal alamien”

Allahu Akbar  9 x  Walillahil hamd 

Keinsafan akan ridlo Allah, keinsafan pada cinta sayang Allah sebagai tujuan hidup, akan dapat  membimbing manusia kepada kesadaran akan makna kematian. Menyadari kematian sama artinya dengan menyadari kehidupan. Kesadaran kepada kematian membawa akibat lebih lanjut berupa peningkatan rasa tanggung jawab, dan tanggung jawab dapat meningkatkan kualitas hidup itu sendiri. Sebab tanggung jawab itu dalam bentuknya yang tertinggi adalah semata ditujukan kepada Yang Maha Mutlak Benar dan Yang Mutlak Baik (Allah). Usaha yang sungguh-sungguh mewujudkan kebajikan  itulah merupakan bentuk wujud nilai terciptanya keberadaan manusia (made of existence). Usaha itu ditujukan untuk menemukan jalan menuju Allah, dan nilai manusia ditentukan oleh seberapa besar kesungguhan usaha tersebut. Manusia harus senantiasa akumulatif dari hari ke hari. Bertujuan mencari jalan menuju ridla dan rahmat Allah, Karena dengan cara itu kesempurnaan pencapai tujuan hidup yang sebenarnya bisa kita raih.

Allahu Akbar 9 X walillahil hamd.

            Berdasarkan itu semua, manusia, demi nilai kemanusiaannya sendiri dalam iman, yakni dalam keseluruhan pandangan transendental yang menyangkut kesadaran akan asal-usul dan tujuan wujud dan hidupnya harus berpusat pada Tuhan Yang Maha Esa.Dengan kata lain seluruh keinsafan hidupnya harus bersifat teosentris bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dan kembali kepada-Nya. Dengan memusatkan pandangan kepada Tuhan itulah manusia menemukan dirinya, sehingga memperoleh ketentraman lahir dan batin serta rasa optimis terhadap hidup dan kemantapan kepada diri sendiri.
           
Kepuasan batin yang bersifat ruhani (esoteris),  itu nyata, dan merupakan kebutuhan hidup manusia yang nyata pula. Tetapi perlu diingat bahwa kepuasan batin yang bersifat ruhani tidak bisa dicapai tanpa kepuasan batin yang bersifat lahiriyah (eksoteris). Karena itu setiap orang yang beriman harus menyempurnaan keimanannya kepada Allah yang merupakan kepuasan batin yang bersifat ruhani, dengan kepuasan batin yang bersifat lahiriyah, yang berupa amal shalih kepada sesama manusia. Di sinilah dimensi esoteris yang vertikal bertemu dengan dimensi eksoteris yang bersifat horizontal. Di sinilah dimensi teosentrisme menyatu dengan dimensi antroposentrisme. 
            Bahwa amal perbuatan manusia itu antroposentris adalah juga merupakan akibat logis dari keyakinan tentang ke-Mahaesa-an Tuhan. Sebagai Yang Maha Esa, Tuhan, tidaklah memerlukan manusia. Manusia tidaklah dituntut untuk melayani (berkhidmat), tetapi yang dituntut adalah menghambakan diri kepada Allah, sebab manusialah yang memerlukan Tuhan, dan bukan Tuhan memerlukan manusia. Buah dari ibadah itu bukan untuk Tuhan, tetapi untuk manusia sendiri, untuk kesejahteraan, keamanan, dan kebahagiaan manusia.

ألله غنى حميد  و أنتم الفقراء إلي الله

 ِ           .Allah Maha Kaya dan kamulah yang fakir memerlukan pada yang lain terutama Allah. Begitulah mengenai ibadah begitu pula mengenai amal perbuatan manusia. Manusialah yang perlu pada amalnya sendiri baik atau buruk nilai amal itu akan kembali pada manusia tidak kepada Tuhan. Bahkan ketika manusia berterimakasih kepada Tuhan, sebenarnya ia berterimakasih kepada dirinya sendiri.

ومن شكر فإنما يشكر لنفسه ومن كفر فإن الله غنى حميد

Allahu Akbar 9 X walillahil hamd.

Untuk itu dari atas mimbar ini, marilah kita kembali ke fitrah asal kejadian kita sebagai manusia, dengan beriman semata kepada Allah yang Maha Esa, dan meninggalkan segala bentuk kemusyrikan baik dalam bentuknya nyata atau pun samar-samar. Marilah kita mencoba untuk belajar memiliki iman yang dapat memancarkan keamanan, kesejahteraan, kejujuran dan kesetiaan kepada sesama manusia, sebab hanya keimanan yang semacam itulah yang sesuai dengan keimanan yang fitri. Semoga Allah mencatat kita semua termasuk orang-orang yang menemukan kembali fitrahnya, amien. 


Atas dasar uraian tersebut, maka pendidikan yang benar untuk anak-anak kita adalah pendidikan yang selalu mengarahkan anak-anak kita kepada dua hal: semangat bertuhan yang benar dan semangat  berbuat kebajikan. Negeri kita yang kaya ini menjadi negeri yang miskin, negeri kita yang menghormati agama menjadi negeri yang kaya dengan koruptor, bukan hasil  perbuatan orang-orang bodoh tak terdidik, melainkan ulah kaum terdidik yang salah asuh dan salah didik. Maka selama semangat bertuhan dan semangat berbuat kebajikan belum menjadi arah kurikulum pendidikan kita, jangan berharap kita punya negara dan masyarakat yang maju yang dicintai oleh Tuhan, naudzubillahi min dzalika.

فيا عباد الله  أوصيكم و إياى نفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون. اعلموا أن التقوى صفة للاولين والآخرين. و شعار المؤمنين و المحسنين. قال الله عز وجل : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم " ومن يعظم شعائر الله فإنها من تقوى القلوب. (الآية)


 










ألله أكبر 9× كبيرا والحمد لله كثيرا و سبحان الله  بكرة و أصيلا . لا إله إلا الله  وحده . صدق وعده و نصر عبده . و أعز جنده و هزم الأحزاب وحده.  لا إله إلا الله  ولا نعبد إلا إياه . مخلصين له الدين ولو كره المنافقون. لا إله إلا الله   أكبر و لله الحمد. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له .  و أشهد أن محمدا  عبده و رسوله لا نبي بعده.

اللهم اجعل صلواتك و بركاتك على سيد المرسلين وإمام المتقين و خاتم النبيين سيدنا محمد عبدك ورسولك إمام الخير وقائد الخير و رسول الرحمة اللهم ابعثه المقام المحمود الذى يغبطه فيه الأولون و الآخرون. أما بعد

فيا عباد الله  أوصيكم و إياى نفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون. اعلموا أن التقوى صفة للأولين والآخرين. و شعار المؤمنين و المحسنين. قال الله عز وجل : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم " ومن يعظم شعائر الله فإنها من تقوى القلوب. (الآية)

اللهم صل و سلم و بارك على سيد المرسلين وعلى اله صحبه أجمعين ومن تبعه إلى يوم الدين. اللهم وارض عن الخلفاء الراشدين الذين قضوا بالحق وكانوا به يعدلون أبي بكر وعمر وعثمان و على وعلى بقية الصحابة والتابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.  وعلينا معهم برحمتك ياأرحم االراحمين. اللهم اغفر للمسلمين و المسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات و قاضى الحاجات . أللهم أعز الإسلام والمسلمين . واخذل الكفرة والمبتدعة والمشركين. اللهم شتت شملهم. ومزق جمعهم ودمر ديارهم . اللهم انصر من نصر الدين واخذل من خذل المسلمين. اللهم اجعل بلدتنا هذه آمنة مطمئنة واجعلها بلدة طيبة و رب غفور. ربنا وافتح بيننا و بين قومنا بالحق و أنت خير الفاتحين.  ربنا آتنا فى الدنيا حسنة و في الآخرة حسنة وقنا عذاب ا لنار.

عباد الله إن الله  يأمركم بالعدل و الإحسان . و إيتاء ذى القربى  و ينهى عن الفحشاء والمنكر والبغى . يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم ولذكر الله أكبر. والله يعلم ما تصنعون

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته



 KHOTBAH IDUL FITRI








 







Oleh:
Syarqawi Dhofir
 

Artikel Terkait



0 komentar:

Falsafah Ilmu syarqowi.zofir@gmail.com | © 2010 Template by:
Teroris Cinta Dot Com